Merak itu telah berjalan
dari taman ke taman
seraya melempar senyuman
Merak itu melangkah anggun
dengan kepala terayun-ayun
yakin semua kan tertegun
Dengan jalinan bulu penuh warna
ia tebarkan senyum pesona
agar semua kan terpana
Merasa diri yang terhebat
tak dibalasnya sapa katak yang meloncat
dan undangan iringan semut yang lewat
Kepala yang tengadah ke atas
membuat mata kurang awas
pujian datang, hati puas
Kaki tiada menapak tanah
duri-duri telah memanah
menghadirkan tetesan darah
Merak pun menangis pilu
angkuh diri membuatnya tak tahu malu
menganggap diri yang nomor satu
Untaian bulu warna-warni
tak ditunjukkannya lagi
sebab kini tiada seindah pelangi
Dalam dunia fabel, merak dikenal sebagai hewan berperangai angkuh. Dengan keindahan warna-warni bulunya, ia merasa tidak ada lagi yang sanggup menyaingi dirinya.
Bait pertama menggambarkan seorang yang berjalan sambil tersenyum menyombongkan diri. Dia begitu yakin akan kehebatan dirinya.
Bait kedua menceritakan bahwa cara berjalan orang angkuh lain daripada yang lain. Ia berusaha bersikap anggun, tetapi orang-orang yang melihat akan tahu kalau keanggunan itu tampak dibuat-buat.
Bait ketiga mengisahkan betapa yakin akan kehebatan diri sehingga ia yakin bahwa siapa pun yang melihat akan terkagum-kagum dan memujinya.
Bait keempat menjelaskan bahwa orang angkuh tidak akan sudi membuang-buang waktu hanya untuk menjawab sapaan basa-basi atau menerima undangan dari orang-orang sederhana.
Bait kelima menggambarkan kebiasaan orang sombong, ia selalu melihat ke atas, sebab cemas kalau-kalau ada yang meyaingi dirinya. Pujian dan sanjungan membuatnya enggan menunduk.
Bait keenam menceritakan bahwa kesombongan, keangkuhan, atau apa pun namanya akan mengakibatkan kejatuhan.
Bait ketujuh melukiskan tangis penyesalan yang datang kemudian. Saat itulah seorang yang sombong meratapi keangkuhannya.
Bait kedelapan melambangkan bahwa seorang yang jatuh karena keangkuhan biasanya tidak lagi mempunyai keberanian untuk menceritakan apa-apa yang dulu pernah dimiliki. Dia merasa tidak dapat menunjukkan bukti.
Selasa, 01 Juni 2010
Rabu, 19 Mei 2010
Cabik Sajak Dalam Hening
Dalam hening aku menanti
syair merdu dini hari
yang kan mengajakku bernyanyi
menggapai asa yang tak kan pergi
Dalam sepi aku menanti
sebait puisi jelang fajar hari
kan kulantunkan bersama mentari
raih cita kan datang lagi
Dalam hening ku selalu menanti
sajak indah pagi hari
biarlah kusabar merajut mimpi
hingga nyata mendatangi
Hening adalah suasana yang mengantar perasaan menuju ketenangan. Dalam puisi tersebut penulis melukiskan keadaan seorang yang berusaha merajut mimpi dengan berbagai usaha sampai berhasil.
Bait pertama menceritakan seorang yang mendambakan sahabat yang selalu menasihati dengan kata-kata yang menyejukkan hati dalam setiap langkah.Syair merdu adalah nasihat dan semangat. Sedangkan dini hari sebagai kiasan dari menyejukkan karena suasana pagi memang sejuk.
Bait kedua menceritakan seorang tersebut juga memerlukan semangat dalam meraih cita-citanya. Mentari dalam bait ini adalah lambang dari semangat. Hal ini sangat tepat karena matahari terbit pagi hari dan merupakan saat yang penuh gairah untuk melakukan aktivitas.
Bait ketiga menceritakan sang tokoh bukan hanya berdiam diri dengan menerima nasihat atau menikmati dorongan semangat, tetapi juga berusaha mendapatkannya dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Dia akan terus berusaha sehingga harapannya terwujud. Tekad tersebut dapat kita lihat dalam dua baris terakhir bait ketiga.
syair merdu dini hari
yang kan mengajakku bernyanyi
menggapai asa yang tak kan pergi
Dalam sepi aku menanti
sebait puisi jelang fajar hari
kan kulantunkan bersama mentari
raih cita kan datang lagi
Dalam hening ku selalu menanti
sajak indah pagi hari
biarlah kusabar merajut mimpi
hingga nyata mendatangi
Hening adalah suasana yang mengantar perasaan menuju ketenangan. Dalam puisi tersebut penulis melukiskan keadaan seorang yang berusaha merajut mimpi dengan berbagai usaha sampai berhasil.
Bait pertama menceritakan seorang yang mendambakan sahabat yang selalu menasihati dengan kata-kata yang menyejukkan hati dalam setiap langkah.Syair merdu adalah nasihat dan semangat. Sedangkan dini hari sebagai kiasan dari menyejukkan karena suasana pagi memang sejuk.
Bait kedua menceritakan seorang tersebut juga memerlukan semangat dalam meraih cita-citanya. Mentari dalam bait ini adalah lambang dari semangat. Hal ini sangat tepat karena matahari terbit pagi hari dan merupakan saat yang penuh gairah untuk melakukan aktivitas.
Bait ketiga menceritakan sang tokoh bukan hanya berdiam diri dengan menerima nasihat atau menikmati dorongan semangat, tetapi juga berusaha mendapatkannya dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Dia akan terus berusaha sehingga harapannya terwujud. Tekad tersebut dapat kita lihat dalam dua baris terakhir bait ketiga.
Langganan:
Postingan (Atom)